07 Juli 2009

Jagalah Hati

FUNGSI dan PERAN DIRI
“Belum beriman seseorang sebelum dia mencintai orang lain sebagaimana dia mencintai diri sendiri” (hadis Rasulullah SAW).

KHALIFAH
Tuhan telah mengutus manusia sebagai khalifahNya di dunia. Manusia diwajibkan untuk menjalankan tugas-tugas manajerial Allah, yaitu mewujudkan (sifat-sifat) Allah bagi kemaslahatan seluruh alam (rahmatan lil alamin). Maka, kita sebagai manusia, tidak luput dari tugas-tugas tersebut, tunduk dan patuh pada titah Sang Pencipta. Bukti bahwa kita mencintai Allah adalah dengan mencintai segala ciptaan-ciptaanNya (manusia dan makhluk-makhluk yang ada di sekeliling kita). Dan proses ini kini tengah terjadi, selama hayat masih dikandung badan. Kita tidak dapat mencintai Allah secara langsung karena memang kita tidak tahu apa-apa tentangNya melainkan hanya dapat mempersepsikan melalui sifat-sifatNya yang telah diperkenalkan oleh rasul-rasul utusanNya kepada kita.

PANGGUNG SANDIWARA
Memang dunia ini mirip dengan panggung sandiwara, di mana, setiap pemain memiliki peran dan fungsinya masing-masing. Bedanya, dalam sandiwara, skenarionya sudah jelas, siapa dan kapan harus masuk ke arena panggung, siapa dan kapan yang harus keluar arena panggung, dan jelas ending-nya akan seperti apa. Berbeda dengan fungsi dan peran yang harus kita mainkan di dunia nyata ini, yang sarat dengan misteri. Jangankan untuk mengetahui apa yang akan terjadi pada diri kita setahun ke depan, besok saja apa yang akan terjadi pada kita, kita tak tahu pasti.
Jadi, tentu saja, kita akan berperan sesuai dengan kemampuan yang kita miliki. Jika kita mampu menikah, maka kita bisa berperan dan berfungsi sebagai kepala rumah tangga atau ibu rumah tangga. Jika kita mampu menjadi Manajer di perusahaan, maka kita akan berperan dan berfungsi sebagai Manajer. Tentu saja, kemampuan itu harus diyakini oleh orang lain (terutama para pengambil keputusan) sehingga mereka rela memberikan peran dan fungsi tersebut.

IBADAH
Tentu saja, fungsi dan peran yang kita jalani dalam dunia nyata harus bernilai ibadah kepada Allah. Keridhoan Allah sebagai tujuan utama kita, namun keridhoan itu akan diperoleh dari kegiatan kita sehari-hari yang memiliki nilai ibadah (amal). “Allah sebagai tujuan (ibadah kita), dan makhluk-makhlukNya sebagai perantaranya.”
Orang-orang bodoh adalah ladang amalnya orang-orang pandai, orang-orang miskin adalah ladang amalnya orang-orang kaya, orang-orang lemah adalah ladang amalnya orang-orang kuat. Perbuatan baik kepada makhluk-makhluk Allah yang dilakukan berulang-ulang (rutin) adalah wirid yang lebih utama ketimbang wirid dengan hanya membaca asma ul husna berulang-ulang.
Kita harus memiliki keyakinan bahwa orang yang sukses adalah orang yang bisa membuat orang lain sukses. Orang yang bahagia adalah orang yang bisa membuat orang lain bahagia, harta kita (kelak di akhirat) adalah apa yang telah kita berikan (sedekahkan) kepada orang lain (atau untuk jalan yang diridhoiNya). Sebaliknya, kotor hati kita manakala kita membenci orang (segolongan orang, baik golongan dalam bangsa/ ras, golongan dalam agama/ keyakinan, golongan dalam jenis kelamin/ gender, dan berbagai golongan lain), keji hati kita manakala kita suka menghujat orang (segolongan orang) lain, rusak hati kita tatkala kita menilai diri kita lebih bermartabat dari orang (segolongan orang) lain, karena kita hanya mampu melihat orang berdasarkan casing-nya saja.
Nabi Muhammad SAW adalah orang yang penuh kelembutan dan cinta kasih, Beliau mau berperang bukan karena keinginan dirinya melainkan karena beliau menjalankan fungsi sebagai pimpinan dalam khalifahnya (manajerialnya), yaitu suara aklamasi (demokrasi) dari umat yang dipimpinnya. Beliau tidak pernah membenci, menghujat, atau membeda-bedakan golongan dari manusia, camkan kembali hadis beliau di pembukaan tulisan ini. Maka, pantaskah diri kita (yang mengaku Islam) berkhianat pada Beliau dengan menentang ajaran-ajarannya ?, astaghfirullah !!, kedustaan mana lagi yang akan kita perbuat ??.
Banyak perilaku kita yang “membakar” nilai ibadah kita hingga hangus tak bersisa. Aa Gym terkenal dengan slogannya “Jagalah Hati”, karena hati (sanubari) milik Allah yang dititipkan pada kita yang kelak akan diminta pertanggung-jawabannya (masih sucikah seperti pertama kali dititipkan kepada kita ?). Karena itu, jangan suka merusak atau mengotori hati dengan perbuatan-perbuatan yang seakan “kecil” atau “sepele”, seperti sombong (sok jago, sok alim, sok suci, dsb.), fitnah (bohong, menipu, suka memanas-manasi diri dan orang lain), dan berbagai macam yang banyak diberitakan di Al Quran dan Hadis.

SILATURAHMI
Fungsi-fungsi setiap individu banyak yang sama, namun peran diri akan berbeda satu sama lain. Fungsi sabagai ayah banyak yang sama, namun peran seseorang sebagai ayah bagi anak-anaknya tidak akan tergantikan oleh orang lain. Karena kita sebagai makhluk sosial, maka kita sering berinteraksi dengan orang lain, khususnya yang memiliki fungsi yang sama, misalkan sama-sama sebagai dosen.
Silaturahmi bukan hanya sekadar bertemu dan ngobrol saja karena itu tidak akan memiliki banyak nilai ibadah (apalagi kalau sampai isinya hanya menggunjing, mencibir, senang melihat kesusahan orang, senang melihat orang-orang saling bermusuhan, dsb.). Silaturahmi hendaknya dilakukan untuk mengetahui hal-hal (masalah-masalah) yang sedang dialami orang lain yang mungkin bisa kita bantu atau selesaikan. Masalah-masalah bisa terjadi dalam hal finansial, keilmuan, kepengajaran, kepemilikan buku, dan sebagainya.

PENINGKATAN PERAN
Pertanggung-jawaban diri kita sebatas fungsi dan peran yang kita emban. Tidak layaklah jika kita mencampuri apalagi sampai menjelek-jelekkan fungsi dan peran orang lain, apalagi yang berada di atas peringkat manajerial fungsi dan peran kita. Misal, tidak layaklah kita sebagai rakyat menghina dan mengejek presiden kita. Bila kita merasa lebih mampu dan lebih hebat darinya, maka tingkatkanlah fungsi dan peran kita agar orang lain (rakyat) mau memilih kita menjadi presiden.
“Berkacalah pada diri, uruslah dirimu sendiri dulu” sebuah kalimat bijak untuk melaksanakan sebuah introspeksi diri. Bila kita sudah bisa memimpin diri sendiri, bisa memimpin keluarga, maka tingkatkanlah untuk memimpin masyarakat, tingkat-demi-tingkat sesuai kemampuan diri.
Semakin tinggi kedudukan seseorang maka semakin orang itu terkekang (jauh dari kebebasan), sebaliknya, semakin rendah kedudukan seseorang, maka semakin bebaslah orang itu. Seorang raja tidak bisa seenaknya duduk `nongkrong’ di pingir jalan, tetapi bagi rakyat jelata, hal itu sangat bisa sekali. Begitu juga bedanya orang yang bermartabat (bertaqwa) dengan orang yang tidak bermartabat. Orang-orang yang bermartabat pasti sangat menjaga lisan, tulisan dan perilakunya agar apapun yang diucapkan, ditulis dan apapun yang dilakukan jauh dari kesia-siaan (hal-hal yang tidak berguna, bahkan hal-hal yang merusak). Sebaliknya, orang yang tidak menjaga martabatnya, maka ia gemar mengumbar lisan (ct: omong kosong), tulisan (ct: menghasut) dan perilakunya banyak yang melanggar norma-norma kesopanan dan kesusilaan.

KESIMPULAN
Mari kita jalankan fungsi dan peran kita masing-masing secara konsekuen. Jangan sampai kita mengurusi fungsi dan peran orang lain kecuali mereka meminta kita untuk membantunya. Percayalah, hati sanubari seseorang hanya dirinya dan Allah yang tahu, karenanya jangan sampai kita mencerca, menghujat, atau membenci orang (segolongan orang) karena kita hanya mampu melihat casing-nya saja. Bisa jadi, orang yang kita hujat dan kita benci itu telah memiliki kedudukan (derajat) yang lebih tinggi dari kita di mata Allah.
Dengan bertambahnya tingkat usia, tingkat pendidikan, dan tingkat kedewasaan (kematangan berpikir), maka kita harus berani dan mampu memikul beban yang lebih berat, maka, tingkatkan atau tambahkan fungsi dan peran diri di masyarakat, agar kita bisa meningkatkan nilai ibadah kita, dan memiliki kedudukan (derajat) yang lebih tinggi di mata Allah.
Jika kita membenci seseorang maka sesungguhnya kita telah membenci diri kita sendiri (hati kita menjadi kotor karena kebencian itu). Filosofi : “jika satu jari telunjuk mengarah ke orang lain, maka tiga jari lain mengarah ke diri kita sendiri,” artinya, jika kita akan memberi tanggapan mengenai orang lain, maka introspeksilah diri kita terlebih dulu, dalam-dalam.

Penulis : Ahmad Rifani


0 komentar:

Poskan Komentar