“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasannya di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah dikerjakan” (QS. Hud: 15-16).
Kejadian akhir-akhir ini kembali mempertegas, betapa berat manusia melakukan sesuatu amalan kebaikan dengan ikhlas. Yaitu, amalan kebaikan yang telah diperbuat sebelumnya, sengaja dinampak-nampakkan kembali agar orang mengaguminya dan bahkan diperselisihkan. Pihak yang satu mengklaim bahwa dirinyalah yang paling berjasa melakukan kebaikan tersebut. Demikian juga dengan pihak yang satu lagi. Padahal dalam berbuat kebaikan, tanpa disebut-sebut atau bahkan diperselisihkan, Allah sudah tahu.
Bila sampai saling mengklaim terhadap suatu kebaikan, dikuatirkan akan menghilangkan pahala. Bukan hanya itu, menurut Imam Al-Ghazali, yang demikian termasuk perbuatan orang-orang yang tertipu. Sebab, yang demikian bisa termasuk perbuatan riya’yang berakibat pada musnahnya segala pahala yang diraih dari perbuatan tersebut, meskipun ia merasa dirinya telah melakukan kebaikan.
Hal ini dapat difahami dari hadits berikut. “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat engkau tentang orang yang mengerjakan amal kebaikan dan orang-orang memujinya?” Beliau menjawab, “Itu merupakan kabar gembira bagi orang mukmin yang diberikan lebih dahulu di dunia.” Namun jika dia ta’ajub agar orang-orang tahu kebaikannya dan memuliakannya, berarti ini adalah riya’” (HR. Imam Muslim). Karena itu, bila mengerjakan suatu amalan kebaikan, sebaiknya kita mampu menjaganya dari sesuatu yang menghancurkan pahalanya. Apalagi mencari kekaguman orang lain juga merupakan perbuatan yang mengandung syirik kecil.
Kejadian akhir-akhir ini kembali mempertegas, betapa berat manusia melakukan sesuatu amalan kebaikan dengan ikhlas. Yaitu, amalan kebaikan yang telah diperbuat sebelumnya, sengaja dinampak-nampakkan kembali agar orang mengaguminya dan bahkan diperselisihkan. Pihak yang satu mengklaim bahwa dirinyalah yang paling berjasa melakukan kebaikan tersebut. Demikian juga dengan pihak yang satu lagi. Padahal dalam berbuat kebaikan, tanpa disebut-sebut atau bahkan diperselisihkan, Allah sudah tahu.
Bila sampai saling mengklaim terhadap suatu kebaikan, dikuatirkan akan menghilangkan pahala. Bukan hanya itu, menurut Imam Al-Ghazali, yang demikian termasuk perbuatan orang-orang yang tertipu. Sebab, yang demikian bisa termasuk perbuatan riya’yang berakibat pada musnahnya segala pahala yang diraih dari perbuatan tersebut, meskipun ia merasa dirinya telah melakukan kebaikan.
Hal ini dapat difahami dari hadits berikut. “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat engkau tentang orang yang mengerjakan amal kebaikan dan orang-orang memujinya?” Beliau menjawab, “Itu merupakan kabar gembira bagi orang mukmin yang diberikan lebih dahulu di dunia.” Namun jika dia ta’ajub agar orang-orang tahu kebaikannya dan memuliakannya, berarti ini adalah riya’” (HR. Imam Muslim). Karena itu, bila mengerjakan suatu amalan kebaikan, sebaiknya kita mampu menjaganya dari sesuatu yang menghancurkan pahalanya. Apalagi mencari kekaguman orang lain juga merupakan perbuatan yang mengandung syirik kecil.
0 komentar:
Poskan Komentar